Berbagi ilmu dan pengetahuan yang kita miliki, bisa kasih komentar atau masukan disini :)

Kamis, 18 April 2013

Komplikasi Kala III Persalinan

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
        Tingginya angka kematian ibu dan anak umumnya akibat ahli kebidanan atau bidan terlambat mengenali, terlambat merujuk pasien ke perawatan yang lebih lengkap, terlambat sampai di tempat rujukan, dan terlambat ditangani.
        Penanganan rujukan obstetri merupakan mata rantai yang penting, menjadi faktor penentu dari hasil akhir dari kehamilan dan persalinan. Kurang lebih 40% kasus di RS merupakan kasus rujukan. Kematian maternal di RS pendidikan 80-90% merupakan kasus rujukan. Kematian perinatal di RS pendidikan kurang lebih 60% berasal dari kelompok rujukan.

        Oleh karena itu bidan wajib mempelajari materi ini untuk dapat mencegah dan menangani langsung komplikasi-koplikasi yang mungkin terjadi pada persalinan kala III.

B.     Rumusan Masalah
1.         Komplikasi apa saja yang terjadi pada persalinan kala III ?
2.         Bagaimana cara menangani komplikasi yang terjadi pada kala III ?

C.    Tujuan
1.         Mampu menjelaskan komplikasi apa saja yang terjadi persalinan kala III.
2.         Mampu menjelaskan penanganan komplikasi persalianan kala III.


BAB II
TINJAUAN TEORI

Perdarahan pada kala III
            Perdarahan pada kala III umum terjadi dikarenakan terpotongnya pembuluh-pembuluh darah dari dinding rahim bekas implantasi plasenta/karena sinus-sinus maternalis ditempat insersinya pada dinding uterus terbuka. Biasanya perdarahan itu tidak banyak, sebab kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menekan pembuluh-pembuluh darah yang terbuka, sehingga lumennya tertutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah. Jumlah darah yang umum keluar tidak lebih dari 500cc. Apabila  setelah lahirnya bayi darah yang keluar melebihi 500cc maka dapat dikategorikan mengalami perdarahan pascapersalinan primer. Pada pasien yang mengalami perdarahan pada kala III atau mengalami pengeluaran darah sebanyak >500cc, tanda-tanda yang dapat dijumpai secara langsung diantaranya perubahan pada tanda-tanda vital seperti pasien mengeluh lemah, linglung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik <90 mmHg, nadi >100 x/mnt, kadar Hb <8 g%. 
            Perdarahan primer terjadi dalam 24 jam pertama dan sekunder sesudah itu. Hal-hal yang menyebabkan perdarahan post partum adalah :

A.      ATONIA UTERI
1.         Pengertian:
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini. Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi. Batasan: Atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin dan plasenta lahir.
Atonia uteri adalah tidak adanya tegangan/ kekuatan otot pada daerah uterus/rahim. (Kamus Kedokteran Dorland).
Atonia uteri adalah dimana rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik setelah persalinan, terjadi pada sebagian besar perdarahan pasca persalinan. (Obstetri edisi ke 2, 1998:254).

2.         Etiologi:
Atonia uteri dapat terjadi karena:
a.    Partus lama, karena tak ada pemicu kontraksi/hormon oksitosin lemah.
b.    Pembesaran uterus yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar,  hidramnion, janin besar.
c.    Kegagalan kontraksi uterus/ otot rahim.
d.   Multiparitas.
e.    Anastesi yang dalam.
f.     Anestesi  lummbal.
g.    Terjadinya retroplasenta→perdarahan plasenta dalam uterus.
Atonia juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya belum terlepas dari uterus.
3.         Diagnosis
Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek. Tetapi bila perdarahan sedikit dalm waktu lama, tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat.

4.         Gejala
a.    Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat.
b.    Uterus tidak berkontraksi dan lunak.
c.    Tekanan darah menurun.
d.   Syok karena perdarahan.
e.    Kala III : perdarahan  dari liang senggama 500cc/lebih.

Perbedaan perdaraha atonia uteri dan perdarahan karena robekan serviks.
Perdarahan Karena Atonia
Perdarahan Karena Robekan Serviks
o  Kontraksi uterus lemah.
o  Darah berwarna merah tua karean berasal dari vena.
o  Kontraksi uterus lemah.
o Darah berwarna merah muda karena berasal dari arteri.
o  Biasanya timbul setelah persalinan operatif.


5.         Penanganan Atonia Uteri.
            Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam. Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi.
            Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti preparat ergometrin. Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit.
Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan perdarahan postpartum.

Terapi terbaik adalah pencegahan :
a.    Anemia
Anemia dalam kehamilan harus diobati, karena perdarahan dalam batas-batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia.
b.    Apabila sebelumnya penderita sudah mengalami perdarahan post partum, persalinan harus berlangsung  dirumah sakit.
c.    Kadar fibrinogen harus diperiksa pada perdarahan banyak, kematian janin dalam uterus dan solution plasenta.
d.   Dalam kala III uterus jangan dipijat dan didorong kebawah sebelum plasenta lepas dari dindingnya.

6.         Pengobatan:
Pengobatan perdarahan post partum pada uteri tergantung pada banyaknya perdarahan yang diderita dan derajat atonia uteri. Dibagi dalam 3 tahap:
a.    Tahap I : Perdarahan yang tidak begitu banyak dapat diatasi dengan cara:
1)   Pemberian uterotonika, misalnya oksitosin 10IU dan infuse 20 IU dalam 500 ml NS/RL tetes/guyur.
2)   Mengurut rahim.
3)   Memasang gurita.
b.    Tahap II : bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak selanjutnya berikan infuse dan transfuse darah, dan dapat dilakukan:
1)   Kompresi bimanual.
 

2)   Kompresi aorta.
3)   Tamponade uterovaginal.
4)   Jepitan arteri uterine dengan cara Henkel
c.    Tahap III : bila semua upaya diatas tidak menolong juga, maka usaha terakhir adalah menghilngkan sumber perdarahan, dapat ditempuh dengan dua cara yaitu dengan metigrasi arteri hipogastrika/histerektomi.

B.       RETENSIO PLASENTA
1.         Pengertian
Perdarahan post partum dini dapat terjadi sebagai akibat tertinggalnya sisa plasenta atau selaput janin. Bila hal tersebut terjadi, harus di keluarkan secara manual atau dikuretase disusul dengan pemberian obat-obatan uterotunika intravena. Perlu dibedakan antara retensio placenta dengan sisa plasenta (rest placenta). Dimana retensio placenta adalah plasenta yang belum lahir seluruhnya dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post partum sekunder.
Beberapa pengertian mengenai retensio plasenta :
a.    Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setengah jam sesudah anak lahir. (Sinopsis Obstertri jilid I : 299).
b.    Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. (Ilmu kebidanan : 656).
c.    Retensio plasenta adalah tertahannya/ belum lahirnya plasenta hingga/ melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal : 299).
d.   Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi. (Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan IBG. Manuaba : 300).


2.         Patofisiologi.
Retensio plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi, menyebabkan sinus-sinus darah tetap terbuka, dan menimbulkan HPP. Begitu bagian plasenta terlepas dari dinding uterus, perdarahan terjadi di daerah itu. Bagian plasenta yang masih melekat merintangi retraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ tersebut terlepas serta dikeluarkan.

3.         Diagnosa
Pada pemeriksaan luar: fundus/korpus ikut tertarik apabila tali pusat ditarik.
Pada pemeriksaan dalam: sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam.

4.      Penegakan Diagnosis
a.    Plasenta belum lahir selama 1 jam setelah bayi lahir.
b.    Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

Jenis-jenis retensio plasenta:
a.    Plasenta Adhesiva
adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkankegagalan mekanisme separasi fisiologis. Keterangan : tipis sampai hilangnya lapisan jaringan ikat Nitabush, sebagian atau seluruhnya sehingga menyulitkan lepasnya plasenta saat terjadi kontraksi dan retraksi ototuterus.
b.    Plasenta Akreta
adalah implantasi jonjot korion plasetita hingga memasuki sebagian lapisan miornetrium. Keterangan : Hilangnya lapisan jaringan ikat longgar Nitabush sehingga plasenta sebagian atau seluruhnya mencapai lapisan desidua basalis. Dengan demikian agak sulit melepaskan diri saat kontraksi atau retraksi otot uterus, dapat terjadi tidak diikuti perdarahan karena sulitnya plasenta lepas. Plasenta manual sering tidak lengkap sehingga perlu diikuti dengan kuretase.

c.    Plasenta Inkreta
adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai / memasuki miornetrium. Keterangan : Implantasi jonjot plasenta sampai mencapai otot uterus sehingga, tidak mungkin lepas sendiri. Perlu dilakukan plasenta manual, tetapi tidak akan lengkap dan harus diikuti (kuretase tajam dan dalam, histeroktomi).
d.   Plasenta Perkreta
adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. Keterangan : jonjot plasenta menembus lapisan otot dan sampai lapisan peritoneum kavum abdominalis. Retensio plasenta tidak diikuti perdarahan, plasenta manual sangat sukar, bila dipaksa akan terjadi perdarahan dan sulit dihentikan, atau perforasi. Tindakan definitif : hanya histeroktomi.
e.    Plaserita Inkarserata
adalah tertahannya plasenta di dalam kavum utrri disebabkan oleh kontriksi osteuniuteri. Keterangan : plasenta telah lepas dari implantasinya, tetapi tertahan oleh karena kontraksi SBR


5.         Etiologi
Penyebabnya ialah :
Perlekatan plasenta/ plasenta belum lepas dari dinding uterus, karena tumbuh melekat lebih dalam yang menurut tingkat pelengkatannya dibagi menjadi:
a.    Plasenta Adhesiva, yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.
b.    Plasenta Inkreta, dimana villi koriales tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke miometrium.
c.    Plasenta Akreta, yang menembus lebih dalam kedalam miometrium tetapi belum menembus serosa.
d.   Plasenta prekreta, yang menembus samapi serosa/peritoneum dinding rahim.
e.    Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena Atonia uteri dan akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Atau karena adanya  lingkaran kontriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III, yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarsereta).
           
6.         Faktor-faktor Predisposisi
a.    Grandemultipara
b.    Kehamilan Ganda, sehingga memerlukan implantasi plasenta yang agak luas
c.    Kasus inferilitas, karena lapisan endometriumnya tipis
d.   Plasenta previa, karena di bagian istmus uterus, pembuluh darah sedikit, sehingga perlu masuk jauh kedalam
e.    Bekas operasi pada uterus.
f.     Bentuk perdarahan:
1)   Perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga patrun pengeluaran lokhea, disertai darah lebih dari 7-10 hari.
2)    Dapat terjadi perdarahan baru setelah patruin pengeluaran lokhea normal.
3)   Dapat berbau, akibat infeksi.

7.         Gejala Retensio Plasenta
Gejala
Separasi/ akreta parsial
Plasenta inkarsereta
Plasenta akreta
1)      Konsistensi uterus
2)      Tinggi fundus
3)      Bentuk uterus
4)      Perdarahan
5)      Tali pusat
6)      Ostium uteri
7)      Separasi plasenta
8)      Syok
Kenyal

Sepusat
Discoid
Sedang-banyak
Terjulur sebagian
Terbuka
 Lepas sebagian

Sering
Keras

2 jari bawah pusat
Agak globuler
Sedang
Terjulur
Konstriksi
Sudah lepas

Jarang
Cukup

Sepusat
Discoid
Sedikit/tidak ada
Tidak terjulur
Terbuka
Melekat seluruhnya
Jarang sekali, kecuali akibat inversion oleh tarikan kuat pada tali  pusat.



8.         Komplikasi
a.    Sumber infeksi.
b.    Terjadi plasenta polip.
c.    Degenerasi korio karsinoma.
d.   Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah.

9.         Penatalaksanaan
Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila plasenta belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai perdarahan.
a.    Tindakan penanganan retensio plasenta :
1)        Memberikan informasi kepada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan
2)        Mencuci tangan secara efektif
3)        Melaksanakan pemeriksaan umum
4)        Mengukur vital sign, suhu, nadi, tensi, pernafasan
5)        Melaksanakan pemeriksaan kebidanan (inspeksi, palpasi, periksa dalam)
6)        Memakai sarung tangan steril
7)        Melakukan vulva hygiene
8)        Mengamati adanya gejala dan tanda retensio plasenta
9)        Bila placenta tidak lahir dalam 30 menit sesudah lahir, atau terjadi perdarahan sementara placenta belum lahir, maka berikan oxytocin 10 IU IM.
10)    Pastikan bahwa kandung kencing kosong dan tunggu terjadi kontraksi, kemudian coba melahirkan plasenta dengan menggunakan peregangan tali pusat terkendali
11)    Bila dengan tindakan tersebut placenta belum lahir dan terjadi perdarahan banyak,maka placenta harus dilahirkan secara manual
12)    Berikan cairan infus NACL atau RL secara guyur untuk mengganti cairan


b.   Manual Plasenta :
1)        Memasang infus cairan dekstrose 5%.
2)        Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam keadaan suci hama.
3)        Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri, tangan kanan dimasukkan dalam rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun.
4)        Tepi plasenta dilepas – disisihkan dengan tepi jari-jari tangan – bila sudah lepas ditarik keluar. Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan bersihkanlah. Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi

C.      INVERSIO UTERI
Pada inversion uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Peristiwa ini jarang sekali ditemukan, terjadi tiba-tiba dalam kala III/ segera setelah plasenta keluar. Menurut perkembangannya inversion uteri dapat dibagi dalam beberapa tingkat, yaitu :
1.         Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri, tetapi belum keluar dari ruang tersebut.
2.         Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina.
3.         Uterus dengan vagina, semuanya terbalik, untuk sebagian besar terletak diluar vagina.


1.         Gejala-gejala Klinik
          Inversio uteri bisa terjadi spontan/ sebagai akibat tindakan. Pada wanita dengan atonia uteri kenaikan tekanan intra abdominal dengan mendadak karena batuk/ meneran, dapat menyebabkan masukmya fundus kedalam kavum uteri yang merupakan permulaan inversion uteri.
          Tindakan yang dapat menyebabkan inversion uteri adalah prasat Crede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik, dan tarikan pada tali pusat plasenta yang belum lepas dari dinding uterus. Gejala-gejala inversion uteri pada permukaan tidak selalu jelas. Akan tetapi, apabila kelainan itu sejak awalnya tumbuh dengan cepat, seringkali timbul rasa nyeri yang keras dan bisa menyebabkan syok. Rasa nyeri yang keras disebabkan kareana fundus uteri menarik adneksa serta ligamentum infundibulopelvikum dan ligamentum rotundum kanan dan kiri kedalam terowongan inversion dan dengan demikian mengadakan tarikan yang kuat pada peritoneum parietal. Kecuali jika plasenta yang seringkali belum lepas dari uterus masih melekat seluruhnya pada dinding uterus, terjadi juga perdarahan.


2.         Diagnosis
          Diagnosis tidak sukar dibuat jika dingat kemungkinan inversion uteri. Pada perdarahan dengan syok, perdarahan dan fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang lazim pada kala III/ setelah persalinan selesai, pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak diatas servik uteri/ didalam vagina, sehingga diagnosis inversion uteri dapat dibuat.
          Pada mioma uteri submukosum yang lahir dalam vagina terdapat pula tumor yang serupa, akan tetapi fundus uteri ditemukan dalam bentuk dan pada tempat biasa, sedang konsistensi mioma lebih keras daripada korpus uteri setelah persalinan. Selanjutnya jarang sekali mioma submukosum ditemukan pada persalinan cukup bulan/ hampir cukup bulan.

3.         Prognosis
Walaupun kadang-kadang inversio uteri bisa terjadi tanpa banyak gejala dengan penderita tetap dalam keadaan baik, namun umumnya kelainan tersebut menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian tinggi(15-70%). Reposisi secepat mungkin memberikan harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita.

4.         Penanganan
          Dalam memimpin persalinan harus dijaga kemungkinan timbulnya inversion uteri. Tarikan pada tali pusat sebelum plasenta benar-benar lepas, jangan dilakukan apabila dicoba melakukan prasat Crede harus diindahkan sebelumnya syarat-syaratnya.
          Apabila terdapat inversio uteri dengan gejala syok, gejala-gejala itu perlu diatasi terlebih dahulu dengan infuse intravena cairan elektrolit dan transfuse darah, akan tetapi segera setelah itu reposisi harus dilakukan. Makin kecil jarak waktu antara terjadinya inversion uteri dan reposisinya, makin mudah tindakan ini dapat dilakukan. Untuk melakukan reposisi yang perlu diselenggarakan dengan anesthesia umum, tangan seluruhnya dimasukkan kedalam vagina sedang jari-jari tangan dimasukkan kedalam kavum uteri melalui serviks uteri yang mungkin sudah mulai menciut, telapak tangan menekan korpus perlahan-lahan tetapi terus menerus kearah atas agak kedepan sampai korpus uteri melewati serviks dan inversio ditiadakan. Suntikan intravena 0,2 mg ergometrin kemudian diberikan dan jika dianggap masih perlu, dilakukan tamponade uterovaginal.
          Apabila reposisi pervaginam gagal, sebaiknya dilakukan pembedahan menurut Haultein. Dikerjakan laparotomi, dinding belakang lingkaran konstriksi dibuka, sehingga memungkinkan penyelenggaraan reposisi uterus sedikit demi sedkit, kemudian luka dibelakang uterus dijahit dan luka laparotomi ditutup.
          Pada inversion uteri menahun, yang ditemukan beberapa lama setelah persalinan, sebaiknya ditunggu berakhirnya involusi untuk kemudian dilakukan pembedahan pervaginam(pembedahan menurut Spinelli).

D.      EMBOLI AIR KETUBAN
1.         Pengertian
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah besar cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba – tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock 25% wanita yang menderita keadaan ini meninggal dunia dalam waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai, kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosa, diagnosa yang dibuat adalah Shocikk obstetric, perdarahan post partum atau edema pulmoner akut.
Cara masuknya cairan ketuban. Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical (yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal) dan daerah utero plasenta. Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli.
a.    Emboli air ketuban adalah syok yang berat sewaktu persalinan selain oleh plasenta previa dapat disebabkan pula oleh emboli air ketuban.(Obstetri Patologi. 1981:128).
b.    Emboli air ketuban adalah merupakan salah satu penyebab syok disebabkan karena perdarahan.(Ilmu Kebidanan. 2002:672).
c.    Emboli air ketuban adalah syndrome dimana setelah sejumlah besar air ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan syok.(Ilmu Kebidana Patologi dan Fisiologi Harry OXORN,493).

2.         Etiologi
Masuknya air ketuban ke vena endosentrik/sinus yang terbuka didaerah tempat perlekatan plasenta.
                       
3.         Faktor Prediposisi
a.    Ketuban sudah pecah.
b.    His kuat.
c.    Pembuluh darah yang terbuka(SC rupture).
d.   Multiparasit.
e.    Kematian janin intrauterine(IUFD).
f.     Mekonium dalam cairan amnion.
g.    Usia diatas 30 tahun.
h.    Persallinan pesipitasus(kurang dari 3 jam).

4.         Gejala
a.    Gelisah.
b.    Mual muntah disertai takikardu dan dispnea.
c.    Sianosis.
d.   TD menurun.
e.    Nadi cepat dan lemah.
f.     Kesadaran menurun.
g.    Nistasmus dan kadang timbul kejang tonik klonik.
h.    Syok.

5.         Komplikasi
a.    Gangguan pembekuan darah.
b.    Edema paru.
c.    Kegagalan dan payah jantung kanan.

6.         Patofisiologi.
a.    Mekanisme kardiovaskuler kolap.
1)   Air ketuban yang terhisap dengan benda padatnya(rambut lanugo, lemak dan lainnya) menyumbat kapiler paru, sehingga terjadi hipertensi pulmonum, edema paru dan gangguan pertukaran O2 dan CO2.
2)    Akibat hipertensi pulmonum menyebabkan;
a)        Tekanan atrium kiri turun.
b)        Cardiac output menurun.
c)        Terjadi penurunan tekanan sistemik yang menyebabkan syok berat.
3)    Gangguan pertukaran O2 dan CO2 menyebabkan sesak nafas, sianosis dan gangguan pengaliran O2 kejaringan mengakibatkan;
a)        Metabolik asidosis.
b)        Anaerobik metabolisme.
c)        Tekanan atrium kiri turun.
4)    Edema paru dan gangguan pertukaran O2 dan CO2 menyebabkan;
a)        Terasa dada sakit dan berat.
b)        Penderita gelisah karena kekurangan O2.
c)        Dikeluarkannya histamine yang menyebabkan bronkospasme.
5)    Terjadi reflex nerfus yang menyebabkan;
a)        Brakikardi.
b)        Kasokontriksi arteria koroner menimbulkan gangguan kontriksi otot jantung akut cardiac arrest.
6)    Manifestasi keduanya menyebabkan syok dalam, kedinginan dan sianosis.
7)    Kematian dapat berlangsung sangat singkat dari 20 menit sampai 36 jam.
b.    Gangguan pembekuan darah.
1)   Partikel air ketuban dapat menjadi inti pembekuan darah.
2)   Mengandung faktor-faktor yang dapat menjadi freger terjadinya introvaskuler koagulasi.
3)   Mengaktifkan system fibrinolisis dan bekuan darah sehingga terjadi hipofibrigonemia dan menimbulkan perdarahan dari bekas implantasi plasenta.
4)   Kekurangan O2 dan menyebabkan anaerobic metabollisme dalam otot uterus, menyebabkan atonia uteri sehingga terjadi perdarahan.


7.         Pathogenesis                                                             
Mekanisme yang tepat tidak diketahui, dikemukakan dua buah teori, yaitu :
a.    Adanya glokade mekanis yang amat besar pada pembuluh darah pulmonalis oleh emboli partikel bahan dalam cairan ketuban, khususnya mekonium.
b.    Adanya reaksi anatilaktik terhadap partikel bahan tersebut.

Tiga aspek utama pada syndrome ini mungkin dihasilkan oleh gabungan proses mekanis dan spastic:
a.    Penurunan mendadak jumlah darah yang kembali kejantung kiri dan berkurang output ventrikel kiri yang menimbulkan kolaps pembuluh darah tepi.
b.    Hipertensi pulmoner yang akut, cor pulmonale, dan dekompensasi jantung kanan menghasilkan edema perifer.
c.    Aliran darah yang tidak teratur dengan kekacauan ratio ventilasi/berfungsi membawa anoksemia dan hipoksia jaringan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya eyanosis, kegelisahan, konvulsi, dan koma.

8.         Upaya preventif.
a.    Perhatikan indikasi induksi persalinan.
b.    Memecahkan ketuban saat akhir his, sehingga tekanannya tidak terlalu besar dan mengurangi masuk kedalam pembuluh darah.
c.    Saat seksio sesarea, lakukan penghisapan air ketuban perlahan sehingga dapat mengurangi:
1)   Asfiksia intrauterine
2)   Emboli air ketuban melalui perlukaan lebar insisi operasi.

9.         Pengobatan
a.    Pemberian transfuse darah segar.
b.    Fibrinogen.
c.    Oxygen.
d.   Heparin/trasylor.
(obstetric patologi:128).

E.       PERLUKAAN JALAN LAHIR
1.         Definisi
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.

2.         Perlukaan jalan lahin terdiri dari :
a.    Robekan Perinium
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika
Perinium merupakan kumpulan berbagai jaringan yang membentuk perinium (Cunningham,1995). Terletak antara vulva dan anus, panjangnya kira-kira 4 cm (Prawirohardjo, 1999). Jaringan yang terutama menopang perinium adalah diafragma pelvis dan urogenital. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani dan muskulus koksigis di bagian posterior serta selubung fasia dari otot-otot ini. Muskulus levator ani membentuk sabuk otot yang lebar bermula dari permukaan posterior ramus phubis superior, dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari fasia obturatorius.
Serabut otot berinsersi pada tempat-tempat berikut ini: di sekitar vagina dan rektum, membentuk sfingter yang efisien untuk keduanya, pada persatuan garis tengah antara vagina dan rektum, pada persatuan garis tengah di bawah rektum dan pada tulang ekor.
Diafragma urogenitalis terletak di sebelah luar diafragma pelvis, yaitu di daerah segitiga antara tuberositas iskial dan simpisis phubis. Diafragma urogenital terdiri dari muskulus perinialis transversalis profunda, muskulus konstriktor uretra dan selubung fasia interna dan eksterna.
Luka perinium adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian perinium dimana muka janin menghadap (Prawirohardjo S,1999).

1)   Luka perinium, dibagi atas 4 tingkatan :
Tingkat I       : Robekan hanya pada selaput lender vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perinium
Tingkat II : Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea transversalis, tetapi tidak mengenai spingter ani
Tingkat III : Robekan mengenai seluruh perinium dan otot spingter ani
Tingkat IV : Robekan sampai mukosa rektum

2)   Umumnya terjadi pada persalinan karena :
a)   Kepala janin terlalu cepat lahir
b)   Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
c)   Jaringan parut pada perinium
d)  Distosia bahu

3)   Tanda dan Gejala yang selalu ada :
a)   Pendarahan segera
b)   Darah segar yang mengalir segera setelah bayi hir
c)   Uterus kontraksi baik
d)  Plasenta baik

4)   Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada :
a)   Pucat
b)   Lemah
c)   Menggigil

b.   Rupture Uteri
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur uteri yang terjadi di luar rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen.
Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura uteri adalah robekan atau diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium. Penyebab ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik.
Ruptura uteri termasuk salah satu diagnosis banding apabila wanita dalam persalinan lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah, diikuti dengan syok dan perdarahan pervaginam. Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ vital di sekitarnya. Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
1)   Ruptur Uteri Gravidarum adalah rupture yang terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus.
2)   Ruptur Uteri Durante Partum adalah rupture yang terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak.
 

Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara :
1)   Menurut lokasinya:
a)        Korpus uteri, ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi seperti seksio sesarea klasik (korporal), miemoktomi
b)        Segmen bawah rahim ( SBR ), ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama tidak maju, SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya
c)        Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsipal atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap
d)       Kolpoporeksis, robekan-robekan di antara serviks dan vagina

2)   Menurut robeknya peritoneum :
a)        Rupture uteri Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya ( perimetrium ) ; dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis
b)        Rupture uteri Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek peritoneumnya. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke ligamen latum

3)   Menurut etiologinya
Ruptur uteri spontanea menurut etiologinya dikarenakan dinding rahim yang lemah dan cacat, bekas seksio sesarea, bekas miomectomia, bekas perforasi waktu keratase.

4)   Pembagian rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi :
a)        Ruptur uteri kompleta
o   Jaringan peritoneum ikut robek
o   Janin terlempar ke ruangan abdomen
o   Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen
o   Mudah terjadi infeksi

b)        Ruptura uteri inkompleta
o   Jaringan peritoneum tidak ikut robek
o   Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
o   Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
o   Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Komplikasi persalinan kala III merupakan masalah yang terjadi setelah janin lahir/ berada diluar rahim. Komplikasi yang terjadi adalah perdarahan yang sering menyebabkan kefatalan/kematian bila tidak ditangani sesegera mungkin. Perdarahan post partum dibagi menjadi dua yaitu perdarahan primer dan sekunder, perdarahan  primer terjadi dalam 24 jam pertama dan sekunder sesudah itu. Hal-hal yang menyebabkan perdarahan post partum adalah; Atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, terlepasnya sebagian plasenta dari uterus, tertinggalnya sebagian dari plasenta umpamanya klotiledon atau plasenta suksenturiata. Kadang-kadang perdarahan disebabkan oleh kelainan proses pembekuan darah akibat dari hipofibrinogenemia(solution plasenta, retensi janin mati dalam uterus, emboli air ketuban).
            Penanganan yang dilakukan pada setiap kasus berbeda-berbeda tergantung pada kasus yang diderita/ banyaknya perdarahan. Misalnya pada atonia uteri penanganannya dengan melakukan Kompresi Bimanual Interna/Eksterna, bila perdarahan tidak dapat diatasi untuk menyelamatkan nyawa ibu maka dilakukan histerektomi supravaginal. Pada retensio plasenta penanganannya manual plassenta. Sedang pada inversion uteri penanganannya dengan reposisi pervaginam jika masih tetap maka dilakukan laparotomi, dan pada perlukaan jalan lahir maka penanganannya dengan penjahitan.


B.       SARAN
1.         Bidan dan tenaga kesehatan lainnya
Dalam memberikan asuhan kebidanan harus sesuai standar manajemen kebidanan, sehingga masalah yang dihadapi klien teratasi.
2.         Klien
Klien hendaknya bersifat kooperatif dengan tenaga kesehatan dan mengikuti segala saran dan nasehat dari tenaga kesehatan.

3.         Pembaca
Kami menyarankan supaya pembaca tidak hanya berpatokan pada makalah  kami ini saja untuk dijadikan bahan belajar. Alangkah baiknya bila para pembaca mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan makalah kami ini pada buku sumber yang lain atau pada media lainnya. Sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca tentang Komplikasi Persalinan Kala III.


DAFTAR PUSTAKA

1.      JNPKKR-POGI. 2001. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.
2.      Nugroho, Taufan. 2010. Buku Ajar Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogjakarta : Nuha medika.
3.      Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I dan jilid II. Buku kedokteran. Jakarta : EGC
4.      Sujiyatini, dkk,. 2011. Asuhan Kebidanan II (Persalinan). Yogyakarta : Rohima Press
5.      Winknjosastro, Hanafi. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
6.      file:///D:/komplikasi%20kala%20III/retensio-plasenta.htm diunduh pada tanggal 14 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar